Minggu, 29 Maret 2009

JASMERAH = Jangan Percaya Kepada yang Tawarkan Sembako Murah

Bagi yang penghasilan pas-pasan, percayalah kepada yang menawarkan program sembako murah. Program ini sangat menjanjikan. Program ini adalah sebuah impian. Program ini adalah madu yang lezat. Perkara bisa tercapai, tunggulah sampai tercapai..
Tetapi bagi yang punya akal sehat, mohon ditunda dulu sampai Anda punya penghasilan pas-pasan. Baru mendukung program tersebut. Jika punya penghasilan lebih, jangan didukung program tersebut.
Saya tidak dalam kapasitas bermain politik. Kalaupun tulisan ini berbau politis memang momentumnya bersamaan dengan pelaksanaan pemilu. Bersamaan dengan partai-partai yang ramai-ramai menjanjikan program sembako murah. Bahkan ada yang menanda tangani kotrak politik, jika kelak terpilih tetap akan memperjuangkan program tersebut. Tetapi tidak ada yang menyatakan siap mundur dengan kesadaran sendiri jika harga sembako tetap tinggi.
Program sembako murah bagi saya adalah suatu pengkhianatan terhadap para petani. Mengapa? Karena sebagian besar sembako dihasilkan oleh petani. Contohnya beras. Tidak ada orang kota menghasilkan beras. Sawah-sawah mereka sudah berubah menjadi gedung atau pabrik. Kalaupun ada orang kota yang menghasilkan beras namanya juga petani, atau pedagang beras.
Dengan harga sembako yang murah produk petani tidak punya margin yang besar. Bagaimana punya untung jika harga jualnya mrah. Akibatnya, petani tidak punya dana untuk memperbaiki kualitas kehidupan. Mereka tetap terpuruk dengan kemiskinan. Mereka hanya bisa melihat kemewahan dan kesenangan hidup dinikmati oleh orang kota. Mengapa? Karena harga produk mereka dibeli dengan harga murah.
Bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan, janji-janji dan tawaran program harga sembako murah adalah obat mujarab mengobati beban hidup yang mendera dalam masa krisis tiada henti ini. Tetapi di sisi lain, jutaan petani kita tetap tepuruk hidupnya karena harga jual produk yang dibuat rendah. Untuk mendapatkan nilai lebih yang tinggi petani harus mengekspor produknya, tetapi siapakan eksporter itu? Orang-orang kaya di kota. Petani tetap miskin karena eksporter membeli beras mereka dengan harga lokal yang rendah.
Bagi saya , tawaran yang cerdas adalah program harga sembako terjangkau. Bagaimana meningkatkan tingkat kehidupan konsumen sembako sehingga bisa membeli produk petani dengan harga yang pantas. Bukan memotong pendapatan petani yang menyebabkan kemiskinan berkepanjangan.
Harga terjangkau itu relatif. Harga mahal juga relatif. Dan harga murah pun relatif. Harga beras Rp 6.000,- bagi yang penghasilannya sehari Rp 10.000,- pasti merupakan harga yang mahal. Apalagi bagi mereka yang berpenghasilan Rp 5.000,-. Tetapi bagi mereka yang berpenghasilan Rp 50.000,- apakah harga beras Rp 6.000,- per kilo itu mahal? Kalau jawabannya iya, Anda termasuk orang yang pelit. Anda tidak mau berbagi rezeki dengan para petani yang jumlahnya jutaan. Nah, harga terjangkau itu adalah harga yang seimbang antara penghasilan konsumen dengan harga jual produk petani. Untuk mencapai harga seimbang bukan harga petani yang ditekan sampai penyet, tapi tingkat pendapatan konsumen sembako yang ditingkatkan.
Ada opsi lain, untuk menurunkan harga produk petani yakni dengan memberikan insentif-insentif, seperti memberikan bibit bersubsidi, pupuk bersubsidi yang dharapkan (sekali lagi diharapkan) harga jual produk sembako bisa murah. Tetapi hal itu sebatas wacana saja. Bukankan di negara kita ini yang namanya barang-barang bersubsidi selalu dicurangi. Barang-barang bersubsidi sering dicolong dan dijual dengan harga umum. Buntutnya harga di tingkat petani akan tetap sama. Miskin.Malingnya yang kaya raya.
Nah bagi yang punya akal sehat. Renungkan baik-baik tulisan ini. Dengan menentukan pilihan yang tepat, Anda akan memperbaiki kehidupan etani kita. Tapi bagi yang berpenghasilan pas-pasan. Lupakan tulisan ini. Semoga mimpi Anda menjadi kenyataan

Selasa, 24 Maret 2009

Caleg dan Rumah Sakit Jiwa

Caleg dan Rumah Sakit Jiwa

Oleh Herry W. Sulaksono

Sebuah suratkabar di Jawa Timur kemarin menulis berita utama yang menggambarkan sebuah rumah sakit jiwa di Surabaya siap menerima pasien caleg pasca Pemilu Legislati 9 April mendatang.
Saya tersenyum membaca berita tersebut. Seolah-olah sudah ada calon pasien yang bakal menjadi pesakitan di sana. Saya membayangkan jika ada atau bahkan banyak caleg yang steress lantaran gagal menjadi angota dewan. Betapa gaduhnya rumah sakit itu.
Ada yang mengobral janji seperti ia kampanye. Ada yang membagi-bagikan uang dan sembako kepada perawat atau pengunjung. Seolah-olah pengunjung adalah konstituennya. Atau mungkin ada yang duduk termenung dan sesekali interupsi. Seakanakan sudah menjadi wakil rakyat.
Apakah benar nanti bakalan banyak caleg yang gila? Mengapa menjadi gila? Jawabannnya bisa iya bisa juga tidak. Jawaban tidak jika para caleg sudah menyadari kekalahannya. Ibarat pertandingan akan ada kalah dan menang. Ini adalah pertarungan. Berbeda dengan pertandingan olahraga, tidak ada kata seri dalam kasus ini.
Jawaban iya jika para oknum caleg over ekspetasi. Dirinya merasa dan yaqin (seyaqin-yaqinnya) rakyat akan mendukung dan mencontreng namanya. Uang sudah dibagi-bagikan. Sembak pun sudah. Kaos, kalender dan stiker, apalagi. Jauh sebelum kampanye resmi dimulai mereka sudah sosialisasi. Bahasa halus dari mencuri start.
Para oknum itu melihat alangkah enaknya menjadi anggota dewan. Kerjanya tidak jelas tapi penghalisannya jelas. Apakah banyak di antara para caleg itu paham benar cara membuat undang-undang, perda dan produk lembaga legislatif? Bisa saja mereka tahunya hanya datang rapat, berkoar-koar tidak jelas topiknya di persidangan dan setiap bulan absen terima gaji. Belum lagi tunjangan dan sogokan serta angpau yang jelas tidak tercatat dari datar pengeluaran negara. Enak bukan.
Karena enak itu banyak orang merasa yakin bisa melakukan. Rakyat dibuat seakan-akan bodoh. Dengan janji dan mengobral duit serta sembako maka dukungan akan datang dengan sendirinya. Mirip MLM ketikapara anggota baru di bawahnya mendapat anggota maka dana akan mengalir anpa perlu bekerja. Mungkin seperti itu harapannya.
Kembali ke rumah sakit jiwa di Surabaya. Mereka menyediakan kamar kelas VIP. Ruang ber AC dan pelayanan bak hotel berbintang. Nah itu jelas diperuntukkan bagi caleg yang masih punya kelebihan uang. Sisa dari anggaran kampanye yang berjuta-juta itu.
Bagaimana dengan para caleg yang pas-pasan dan menjadi gila? Uang sudah ada, rumah sudah habis, sawah sudah dijual, mobil pun demkian. Dan yang tersisa hanya baju di badan. Jelas tidak mungkin berobat ke rumah sakit jiwa mahal itu. Bsa-bisa ia dipasung keluarganya, atau terlunta-lunta di jalanan ...sambil...berkampanye setiap hari. Kasihan