Selasa, 24 Maret 2009

Caleg dan Rumah Sakit Jiwa

Caleg dan Rumah Sakit Jiwa

Oleh Herry W. Sulaksono

Sebuah suratkabar di Jawa Timur kemarin menulis berita utama yang menggambarkan sebuah rumah sakit jiwa di Surabaya siap menerima pasien caleg pasca Pemilu Legislati 9 April mendatang.
Saya tersenyum membaca berita tersebut. Seolah-olah sudah ada calon pasien yang bakal menjadi pesakitan di sana. Saya membayangkan jika ada atau bahkan banyak caleg yang steress lantaran gagal menjadi angota dewan. Betapa gaduhnya rumah sakit itu.
Ada yang mengobral janji seperti ia kampanye. Ada yang membagi-bagikan uang dan sembako kepada perawat atau pengunjung. Seolah-olah pengunjung adalah konstituennya. Atau mungkin ada yang duduk termenung dan sesekali interupsi. Seakanakan sudah menjadi wakil rakyat.
Apakah benar nanti bakalan banyak caleg yang gila? Mengapa menjadi gila? Jawabannnya bisa iya bisa juga tidak. Jawaban tidak jika para caleg sudah menyadari kekalahannya. Ibarat pertandingan akan ada kalah dan menang. Ini adalah pertarungan. Berbeda dengan pertandingan olahraga, tidak ada kata seri dalam kasus ini.
Jawaban iya jika para oknum caleg over ekspetasi. Dirinya merasa dan yaqin (seyaqin-yaqinnya) rakyat akan mendukung dan mencontreng namanya. Uang sudah dibagi-bagikan. Sembak pun sudah. Kaos, kalender dan stiker, apalagi. Jauh sebelum kampanye resmi dimulai mereka sudah sosialisasi. Bahasa halus dari mencuri start.
Para oknum itu melihat alangkah enaknya menjadi anggota dewan. Kerjanya tidak jelas tapi penghalisannya jelas. Apakah banyak di antara para caleg itu paham benar cara membuat undang-undang, perda dan produk lembaga legislatif? Bisa saja mereka tahunya hanya datang rapat, berkoar-koar tidak jelas topiknya di persidangan dan setiap bulan absen terima gaji. Belum lagi tunjangan dan sogokan serta angpau yang jelas tidak tercatat dari datar pengeluaran negara. Enak bukan.
Karena enak itu banyak orang merasa yakin bisa melakukan. Rakyat dibuat seakan-akan bodoh. Dengan janji dan mengobral duit serta sembako maka dukungan akan datang dengan sendirinya. Mirip MLM ketikapara anggota baru di bawahnya mendapat anggota maka dana akan mengalir anpa perlu bekerja. Mungkin seperti itu harapannya.
Kembali ke rumah sakit jiwa di Surabaya. Mereka menyediakan kamar kelas VIP. Ruang ber AC dan pelayanan bak hotel berbintang. Nah itu jelas diperuntukkan bagi caleg yang masih punya kelebihan uang. Sisa dari anggaran kampanye yang berjuta-juta itu.
Bagaimana dengan para caleg yang pas-pasan dan menjadi gila? Uang sudah ada, rumah sudah habis, sawah sudah dijual, mobil pun demkian. Dan yang tersisa hanya baju di badan. Jelas tidak mungkin berobat ke rumah sakit jiwa mahal itu. Bsa-bisa ia dipasung keluarganya, atau terlunta-lunta di jalanan ...sambil...berkampanye setiap hari. Kasihan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar